Sabtu, 15 Desember 2012

LANGKAH MEMBUAT REKONSILIASI BANK


Cara Membuat Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi Selangkah

  • 0
     
    Share
Di tulisan ini saya akan tunjukan cara membuat rekonsiliasi bank selangkah demi selangkah, disertai dengan contoh kasus dan contoh format rekonsiliasi bank. Sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan jika konsep dasarnya sudah dipahami (jika belum, silahkan baca “Konsep Rekonsiliasi Bank“).
Tidak ada aturan baku (standar) untuk melakukan proses rekonsiliasi. Setiap pegawai akuntansi atau pembukuan mungkin memili tehnik yang berbeda dalam melakukan rekonsiliasi bank.
Ada yang memulai proses rekonsiliasi dengan mengidentifikasi dan mengumpulkan semua perbedaan. Lalu semua perbedaan itu dituangkan ke dalam lebar kerja rekonsiliasi. Baru dilakukan penjurnalan sekaligus. Persis seperti apa yang diajarkan saat di bangku kuliah dahulu. Saya sendiri, di awal-awal karir juga melakukan rekonsiliasi bank dengan cara seperti itu.
Seiring bertambahnya pengalaman, saya menemukan bahwa menelusuri transaksi baris-per-baris sangat memakan waktu. Jika jumlah transaksinya kurang dari 20 baris mungkin bisa dilakukan dengan cepat. Bayangkan jika jumlah transaksinya 300 an lebih. Mungkin akan butuh waktu berhari-hari.
Kebetulan jumlah transaksi yang saya tangani selalu banyak. Dan diakhir penelusuran, seringkali saya menemukan perbedaan yang sangat kecil. Sehingga usaha menelusuri satu-satu sejak di awal rasanya terlalu banyak buang waktu. Saya meninggalkan cara klasik yang diajarkan di kampus itu dan lebih suka melakukan identifikasi dan penjurnalan secara bertahap. Disamping lebih efesien waktu, lemabaran kerja rekonsiliasi juga menjadi lebih ringkas. Berikut adalah langkah-langkah yang biasa saya lakukan untuk mempercepat proses rekonsiliasi bank:

Langkah-1: Bandingkan Saldo Rekening Koran Vs Buku Kas Perusahaan

Sama atau berbeda? Kemungkinan untuk persis sama sangatlah kecil. Biasanya selalu ada perbedaan. Misalnya ditemukan Saldo Rekening Koran Rp 8,550,000, sementara saldo Buku Kas Perusahaan Rp 36,380,000. Perbedaan yang lumayan besar. Lanjutkan ke Langkah-2.

Langkah-2. Cari Transaksi Yang Bersifat ‘Auto’

Transaksi bersifat ‘Auto’ yang saya maksudkan di sini adalah biaya yang dikenakan oleh bank dengan langsung mendebit (memotong saldo) dan pendapatan yang diberikan oleh bank dengan langsung mengkredit (menambah saldo) rekening perusahaan, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, antara lain: biaya admin bank, bea meterai, biaya buku cek, bunga jasa giro, pajak atas bunga. Karena bank langsung melakukan transaksi tanpa pemberitahuan ke pihak perusahaan terlebih dahulu, maka perusahaan biasanya belum mencatat transaksi tersebut di dalam buku kas perusahaan.
Jenis transaksi ini rutin terjadi setiap bulannya, jumlahnya relatif sama dari bulan-ke-bulan, kisaran tanggal transaksinyapun lebih banyak terjadi mendekati akhir-akhir bulan (kecuali biaya buku cek—tergantung tanggal pengambilan). Cari jenis transaksi ini di dalam rekening koran. Biasanya antara tanggal 25 hingga 31 untuk setiap bulannya. Misalnya ditemukan:
  • Biaya admin bank Rp 500,000, belum dicatat ke dalam buku kas perusahaan
  • Biaya buku cek Rp 300,000, belum dicatat ke dalam buku kas perusahaan
  • Bea materai Rp 50,000, belum dicatat ke dalam buku kas perusahaan
  • Bunga jasa giro Rp 215,000, belum dicatat ke dalam buku perusahaan
  • Pajak atas bunga Rp 15,000, belum dicatat ke dalam buku perusahaan.

Masukan transaksi-transaksi tersebut ke dalam buku kas perusahaan dengan jurnal, sbb:
[Debit]. Biaya Admin Bank = Rp 850,000
[Credit]. Kas – Bank Mandiri = Rp 850,000
(Biaya admin bank 500,000 + buku cek 300,000 + bea materai 50,000)

[Debit]. Kas – Bank Mandiri = Rp 200,000
[Debit]. Biaya Pajak atas bunga = Rp 15,000
[Credit]. Pendapatan Jasa Giro = Rp 215,000
(Untuk mencatat bunga jasa giro dan pajak atas bunga)
Dengan selesainya penjurnalan di atas berarti jenis biaya dan pendapatan auto telah dimasukan, dan saldo kas perusahaan akan berubah menjadi: 36,380,000 – 500,000 – 300,000 – 50,000 + 200,000 = Rp 35,730,000.
Dibandingkan dengan saldo dalam rekening koran yang hanya Rp 8,550,000, berarti masih ada selisih Rp 27,180,000, bukan? Lanjutkan ke Langkah-3.

Langkah-3. Buat ‘Lembar Kerja Rekonsiliasi’

Buat lembar kerja rekonsiliasi yang sederhana saja, lalu masukan saldo Buku Kas Perusahaan Rp 35,730,000 di ujung atas, dan saldo rekening koran sebesar Rp 8,550,000 di bagian bawah lembaran kerja, seperti berikut ini:

Langkah-4. Temukan Setoran Dalam Perjalanan
Setoran Dalam Perjalanan’ atau ‘Deposit in Transit’ yang dimaksudkan adalah cek (umumnya pembayaran dari pelanggan) yang sudah dicatat sebagai kas masuk akan tetapi belum disetorkan ke bank, atau sudah disetorkan tetapi belum berhasil di kliring sampai bank tutup buku, sehingga di rekening koran tidak muncul.
Kumpulkan semua setoran untuk bulan itu (di dalam buku perusahaan pasti di sisi debit, terutama pada tanggal-tanggal menjelang tutup buku), cari setoran itu di dalam rekening koran satu-per-satu (biasanya di sisi credit rekening koran, dari tanggal 20 ke atas). Setoran manapun yang tidak muncul di rekening koran, masukan ke dalam ‘Lembaran Kerja Rekonsiliasi’ di bagian “Setoran Dalam Perjalanan”. Lalu Jumlahkan. Misalnya ditemukan 3 setoran dalam perjalanan, sbb:
Setoran tanggal 29-Aug-2011 = Rp 15,000,000
Setoran tanggal 30-Aug-2011 = Rp 25,000,000
Setoran tanggal 31-Aug-2011 = Rp 10,000,000
Setoran Dalam Perjalanan       = Rp 50,000,000
(CatatanIni tidak perlu di jurnal, cukup di masukan ke dalam lembar kerja rekonsiliasi saja).

Langkah-5. Temukan Cek Beredar

Cek Beredar’ atau ‘Outstanding Check‘ yang dimaksudkan di sini adalah cek keluar yang sudah dicatat sebagai kas keluar (biasanya pembayaran kepada pihak luar) tetapi belum dicairkan oleh si penerima cek hingga bank tutup buku, sehingga saldo buku kas perusahaan sudah berkurang tetapi saldo kas di rekening koran belum berkurang.
Kumpulkan semua cek keluar bulan itu (di dalam buku perusahaan pasti di sisi kredit terutama pada tanggal-tanggal menjelang tutup buku), cari cek keluar tersebut di dalam rekening koran satu-per-satu (biasanya di sisi debit rekening koran). Setoran manapun yang tidak muncul di rekening koran, masukan ke dalam ‘Lembaran Kerja Rekonsiliasi’ di bagian “Cek Beredar”. Lalu Jumlahkan. Misalnya ditemukan 5 cek beredar, sbb:
Cek No. 389900 = Rp   3,500,000
Cek No. 389905 = Rp   5,200,000
Cek No. 389910 = Rp   2,000,000
Cek No. 389912 = Rp   8,000,000
Cek No. 389917 = Rp   4,300,000
Cek Beredar       = Rp 23,000,000
(CatatanIni tidak perlu di jurnal, cukup di masukan ke dalam lembar kerja rekonsiliasi saja).
Setelah langkah-4 dan 5 di atas dilakukan, maka anda seharusnya akan menghasilkan lembar kerja seperti di bawah ini:

Masih ada selisih Rp 180,000. Yang seperti ini, meskipun tidak terlalu sering, bisa saja terjadi. Dimanakah selisih ini? Cari! Caranya?

Langkah-6. Periksa Ulang Dan Telusuri
Pertama pastikan semua biaya-biaya bank dan pendapatan jasa giro (termasuk pajaknya) sudah dijurnal dan dimasukan ke dalam buku kas perusahaan. Jika tidak ada yang ketinggalan dan semuanya sudah dijurnal dengan benar. Lanjutkan periksa ulang ke lembaran kerja rekonsiliasi, pastikan semua setoran dalam perjalanan dan cek beredar sudah dimasukan ke dalam lembar kerja rekonsiliasi dengan benar. Jika semuanya sudah dimasukan dengan benar, berarti anda perlu melakukan penelusuran satu-per-satu.
Banyak? Lha wong pekerjaan satu bulan harus diperiksa ulang satu per satu, ya jelas buuaaanyak. Tidak usah stress, santai saja. Mungkin perlu minum dulu, luruskan badan, sambil bersihkan meja hingga benar-benar rapi. Setelah ketegangan mulai turun, duduk relax, pikirkan bagaimana caranya melakukan penelusuran dengan cepat?
Bagi para pemula, menelusuri transaksi satu-per-satu memang bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan cepat. Apalagi jika jumlah transaksi cukup banyak. Tetapi ini adalah hal biasa bagi mereka yang sudah berpengalaman—bisa melakukan penelusuran dengan cepat, karena mereka biasanya sudah memiliki ‘sense’ (semacam instinct) yang bisa mengendus dari mana asal selisih itu. Oke. Saya kasih clue-nya:
  • Jika selisihnya kecil (di bawah Rp 1,000,000), kemungkinan besar disebabkan oleh salah input angka. Artinya, kemungkinan semua cek dan slip setoran sudah terinput, hanya saja diinput lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.
  • Jika selisihnya besar (di atas Rp 1,000,000), kemungkinan besar disebabkan oleh: (a) adanya cek keluar/slip setoran yang belum terinput; atau (b) ada cek keluar/slip setoran diinput duakali; atau (c) ada cek batal (kembali) yang lupa dijurnal pembalik (reversal journal).
Yang manapun dari kemungkinan di atas, mau-tidak-mau anda harus melakukan penelusuran transaksi-per-transaksi. Supaya tidak pusing lompat sana lompat sini, lakukan penelusuran dengan menggunakan nomor cek dan nomor slip setoran yang ada di rekening koran (setiap transaksi pasti ada nomor cek/nomor slip-nya). Mulai dari transaksi yang paling atas, misalnya nomor cek 389815.
Jika buku kas perusahaan menggunakan Excel, anda tinggal tekan Ctrl + F, masukan nomor cek tersebut. Jika menggunakan software akuntansiyang memiliki fitur pencarian nomor cek, anda bisa menggunakan itu, masukan nomor cek tersebut. Perhatikan jumlah (amount)-nya. Terus lakukan hingga transaksi terakhir di rekening koran. Saya yakin anda akan menemukannya.
Dalam contoh kasus ini misalnya anda menemukan Cek No. 389825 di rekening koran menunjukan nominal Rp 1,200,000 tetapi di buku kas perusahaan menunjukan nominal Rp 1,020,000. Mungkin cashier ngantuk saat input cek tersebut. Apa yang harus dilakukan dengan ini?
Ambil dokumen terkait dengan transaksi tersebut, misalnya nota tagihan dari PT. XYZ atas pemebelian bahan baku. Periksa nominal tagihannya; apakah memang Rp 1,200,000 atau hanya Rp 1,020,000? Jika memang Rp 1,200,000 berarti hanya kasus salah input—anda cukup menegur data entry kas. Lalu buat jurnal penyesuaian:
[Debit]. Utang pada PT. XYZ       = Rp 180,000
[Credit]. Kas                                  = Rp 180,000
Setelah jurnal ini dimasukan, maka saldo buku kas perusahaan akan berkurang sebesar Rp 180,000, sehingga menjadi Rp 35,550,000. Ganti saldo akhir buku kas di lembar kerja rekonsiliasi (ujung atas) dari Rp 35,730,000 menjadi Rp 35,550,000, sehingga ‘Saldo Akhir Buku Kas Perusahaan Setelah Rekonsiliasi’ akan menjadi sama persis dengan ‘Saldo Akhir Kas Bank Mandiri, yaitu Rp 8,550,000.
Jika sudah sama, berarti pekerjaan rekonsiliasi bank sudah selesai. Print “Lembaran Kerja Rekonsiliasi” lalu arsipkan bersama-sama dengan rekening koran untuk bulan yang sama.
NoteJika ternyata nota tagihan dalam kasus selisih di atas hanya Rp 1,020,000 berarti ini bukan sekedar kasus salah input, melainkan kasus lebih bayar! Bicarakan dan minta approval dari atasan sebelum memasukan jurnal penyesuaian.

REKONSILIASI BANK 2




Perbedaan saldo kas versi laporan bank dan saldo kas versi perusahaan merupakan alasan utama diperlukannya penyesuaian atau mencari kecocokan antara keduanya, yang lazim dinamakan dengan rekonsiliasi bank. Dengan memperhatikan jumlah saldo kas dalam laporan bank dan catatan kas yang dilakukan perusahaan maka dapat ditelusuri sebab musabab perbedaan yang tertuang dalam laporan rekonsiliasi bank.

BENTUK PENYAJIAN :

Report Form :
Rekonsiliasi bank disajikan dari atas kebawah atau versi vertikal.

Account Form :
Rekonsiliasi bank disajikan dari kiri ke kanan atau versi horizontal.



PETA REKONSILIASI BANK :

Saldo kas menurut laporan bank pada akhir bulan=xxx

Tambah :

Setoran dalam perjalanan==============xxx
(ada setoran kas yang dilakukan perusahaan tetapi bank
belum mencatat dalam laporan bank)

Kesalahan bank terjadi bila bank membayar cek lebih
besar dari yang seharusnya=============xxx+
Jumlah penambahan======================xxx +
Jumlah================================xxx

Kurang :
Cek yang beredar====================xxx

Cek yang kita buat yang berada ditangan penjual
Kesalahan bank terjadi bila bank membayar cek lebih
kecil dari yang seharusnya==============xxx+
Jumlah pengurangan======================xxx-

Saldo kas yang sudah disesuaikan=================xxxx


Saldo kas menurut catatan perusahaan pada akhir bulan.........................xxx
Tambah :
Setoran dari hasil penagihan piutang dagang atau wesel..........................................................................xxx
Bank sukses menagih piutang dagang atau piutang wesel
kita dan oleh bank langsung ditambahkan rekening kita,
tentu bank meminta imbalan.
Kesalahan perusahaan terjadi bila perusahaan catat cek
lebih besar sari yang seharusnya.................................................................xxx

Jumlah saldo kas ditambah dengan penambahan.....................................................................................xxxx

Kurang :
Cek kosong...................................................................xxx
Cek yang dananya tidak cukup, sudah terlanjur ditambahkan
sebagai kas, namun dikembalikan.
Biaya administrasi bank............................................................................xxx
Kesalahan perusahaan terjadi bila perusahaan catat cek
lebih kecil dari yang seharusnya.................................................................xxx

Jumlah pengurangan...................................................................................xxx
Saldo kas setelah disesuaikan............................................................xxxx

JURNAL :
Tergantung transaksi yang terjadi, antara lain :
D: Kas................................xxx
C: Piutang dagang.....................xxx
C: Penghasilan bunga.................xxx
C: Utang dagang........................xxx

D: Biaya administrasi bank...xxx
D: Piutang dagang..............xxx
D: Utang dagang.................xxx
C: Kas.......................................xxx

KATA-KATA PENTING :
Penting juga diketahui bila rekonsiliasi bank ini dalam bahasa inggris :
Kas = Cash
Piutang dagang = Account Receivable (A/R)
Piutang wesel = Note Receivable ( N/R)
Utang dagang = Account Payable ( A/P )
Utang wesel = Note Payable ( N/P)
Biaya administrasi bank = Bank Service Charge
Penghasilan Bunga = Interest Revenue
Kesalahan Bank = Bank Error
Kesalahan Perusahaan = Depositor Error
Cek yang beredar = Outstanding Check
Setoran dalam perjalanan = Deposit in Transit
Cek Kosong = Not Sufficient Fund
Sado kas yang disesuaikan = Adjusted Cash Balance

Ilustrasi 1 :
Saldo menurut catatan Cincai,Co per 31 Desember 20A sebesar Rp. 31.500.000,- . Jumlah tersebut tidak sama dengan saldo menurut laporan bank. Adapun penyebabnya adalah :
• Adanya cek yang beredar Rp. 1.000.000,-
• Adanya setoran dalam perjalanan Rp. 1.500.000,-
• Biaya bank dan jasa giro belum tampak dalam catatan Cincai, Co jumlahnya masing-masing adalah biaya bank Rp. 150.000,- dan jasa giro bank Rp. 200.000,-
• Cek kepada langganan keliru dicatat oleh Cincai, Co. Jumlah yang benar Rp.1.800.000,- Jumlah yang salah Rp. 1.200.000,-
• Setoran Sancai, Co sebesar Rp. 800.000,- oleh bank keliru dicatat sebagai setoran Cincai, Co.
Instruksi:
1. Hitunglah saldo menurut laporan bank per 31 Desember 20A
2. Buatlah Rekonsiliasi Bank untuk menghitung Saldo yang benar pada tanggal 31 Desember 20A.
3. Buat Jurnal Koreksi

Solusi:
a. Menghitung Saldo Laporan Bank

Saldo menurut Cincai,Co per Desember 20A Rp.31.500.000
ditambah:
Cek beredar........................Rp.1.000.000
Jasa giro bank.......................Rp. 200.000
Setoran.............................Rp. 800.000 Rp. 2.000.000
Jumlah..................................................Rp.33.500.000

dikurangi:
Setoran dalam perjalanan.......Rp.1.500.000
Biaya bank..........................Rp. 150.000
Cek kepada langganan.............Rp. 600.000Rp. 2.250.000
Saldo menurut laporan bank per 31 Desember 20A Rp. 31.250.000

b. Menyusun rekonsiliasi bank


Saldo sebelum rekonsiliasi..Rp.31.500.000 Rp.31.250.000
ditambah:
Setoran dalam perjalanan ....................Rp. 1.500.000
Jasa giro bank ...............Rp. 200.000
Jumlah...........................Rp.31.700.000 Rp.32.750.000

dikurangi:
Cek beredar.......................................Rp. 1.000.000
Biaya bank ......................Rp. 150.000
Cek dicatat terlalu kecil......Rp. 600.000
Setoran .............................................Rp. 800.000
Saldo yang benar...............Rp.30.950.000.Rp.30.950.000

c. Jurnal Koreksi

D: Utang usaha Rp. 600.000
D: Biaya bank Rp. 150.000
K: Pendapatan Jasa Giro Rp. 200.000
K: Kas Rp. 450.000

ANALISA UMUR PIUTANG



Analisa umur piutang mendasarkan perhitungannya pada konsep adanya resiko piutang yang tidak dapat ditagih kepelanggan karena beberapa alasan. Piutang yang diragukan tidak dapat ditagih ini semakin lama semakin menumpuk maka salah satu tindakan yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan menyusun kriteria lamanya piutang yang sampai saat ini belum dapat ditagih. Piutang yang tidak dapat tertagih ini karena beberapa sebab, antara lain karena adanya kemungkinan perusahaan terlalu mudah dalam pemberian piutang dalam arti persyaratan yang ditetapkan terlalu longgar. Atau, bahkan memang track record pelanggan itu sendiri yang kurang baik. Batas kriteria piutang tak tertagih, lazimnya adalah 30 hari setelah tanggal transaksi.


Ilustrasi :
ESTIMASI UMUR PIUTANG

INTERVAL UMUR====SALDO===PERSEN===JUMLAH

Belum Jatuh Tempo==== Rp. 122.000.000===3%==Rp.3.660.000,-
Telah j.t dalam 1-30 hari==== 18.000.000===7%==1.260.000,-
Telah j.t dalam 31-60 hari=== 15.000.000===10%==1.500.000,-
Telah j.t. dalam 61-90 hari=== 12.000.000==20%== 2.400.000,-
Telah j.t. dalam 91-180 hari== 8.000..000===30%==2.400.000,-
Telah j.t dalam 181-365 hari== 4.000.000===50%==2.000.000,-
Diatas 365 hari sebesar===== 2.000.000===80%==1.600.000,-

JUMLAH KESELURUHAN===181.000.000 ======14.820.0
00,-
Catatan :

INTERVAL UMUR = Kriteria lamanya piutang tak tertagih sejak tanggal transaksi

SALDO = Jumlah piutang dari beberapa pelanggan dijumlahkan semuanya.
PERSEN = Persentase tidak mungkin tertagih, angka ini diperoleh dari beberapa tahun yang lalu sebagai data historis atau pengalaman perusahaan dengan melihat karakteristik pelanggannya.

JUMLAH = hasil kali antara SALDO dengan PERSEN.


AYAT JURNAL PENYESUAIAN :
Jika Akun PENYISIHAN PIUTANG TAK TERTAGIH bersaldo DEBET sebesar Rp.5.000.000,- maka Jurnal Penyesuaiannya adalah :

D : Beban Piutang Tak Tertagih== Rp.19.820.000,-
K : Penyisihan Piutang Tak Tertagih====== Rp. 19.820.000,-

Penjelasan :
Saldo akun Penyisihan Piitang Tak Tertagih harus berjumlah Rp. 14.820.000,-( Rp. 19.820.000,- - Rp.5.000.000,-) sehingga dengan jumlah penyesuaian tersebut maka nilai realisasi bersih Piutang Dagang adalah Rp. 181.000.000- Rp. 14.820.000,- = Rp. 166.180.000,-

Namun, Jika Akun PENYISIHAN PIUTANG TAK TERTAGIH bersaldo KREDITsebesar Rp. 2.000.000,- maka Jurnal Penyesuaiannya adalah :
D: Beban Piutang Tak Tertagih== Rp. 12.820.000,-
K : Penyisihan Piutang Tak Tertagih===== Rp. 12.820.000,-

Penjelasan :
Saldo akun Penyisihan Piutang Tak Tertagih tetap berjumlah Rp. 14.820.000,- ( Rp. 12.820.000,-+ Rp.2.000.000,-) sehingga dengan adanya jurnal penyesuaian tersebut maka nilai realisasi bersih Piutang Dagang adalah Rp. 181.000.000 – Rp. 14.820.000,- = Rp.166.180.000,-


JURNAL



Akun-akun yang digunakan oleh Perusahaan Jasa "Rakata" meliputi : Kas, Piutang Usaha, Perlengkapan, Peralatan Kantor, Utang Usaha, Modal Tn.Rakata, Pendapatan Jasa, Beban Sewa, Bekan Iklan, Beban Utilitas dan Beban Rupa-Rupa. Susunlah jurnal untuk transaksi berikut ini :

April :
01 : Membayar sewa untuk bulan berjalan Rp. 1.500.000,-
02 : Membayar beban iklan Rp. 700.000,-
04 : Membeli perlengkapan Rp. 1.050.000,-
06 : Membeli peralatan kantor secara kredit Rp. 7.500.000,-
08 : Menerima kas dari penagihan piutang usaha dari klien
===Rp.3.600.000,-
12 : Membayar utang kepada kreditur Rp. 1.150.000,-
20 : Penarikan pribadi Rp. 1.000.000,-
25 : Membayar tunai untuk perbaikan peralatan kantor Rp. 500.000,-
30 : Membayar tagihan telepon untuk bulan berjalan Rp. 195.000,-
31 : Pendapatan yang diperoleh dan ditagih kepada klien untuk bulan
===berjalan Rp. 10.150.000,-
31 : Membayar tagihan listrik untuk bulan berjalan sebesar Rp. 350.000,-

Jawaban Jurnal :
01 :
D : Beban Sewa =====Rp. 1.500.000,-
K : Kas ====================== Rp. 1.500.000,-
analisa :
Andaikata kita sudah terlebih dahulu membayar sewa dibayar dimuka maka jurnalnya menjadi :
D : Beban Sewa =======xxx
K : Sewa dibayar dimuka =====xxx
Penggunaan akun beban sewa mensyaratkan pada jumlah sewa yang expired.

02 :
D : Beban Iklan =====Rp. 700.000,-
K : Kas=======================Rp. 700.000,-
analisa :
Beban iklan dibayar tunai pada bulan tersebut.

04 :
D : Perlengkapan====Rp. 1.050.000,-
K : Kas =======================Rp.1.050.000,-
analisa :
perlengkapan yang akan habis dipakai dalam waktu kurang dari satu tahun dan sudah dibeli secara tunai.

06 :
D : Peralatan Kantor==Rp. 7.500.000,-
K : Utang Usaha=================Rp. 7.500.000,-
analisa :
peralatan kantor adalah sejenis aktiva tetap yang umur ekonomisnya lebih dari satu tahun dan biasanya dibeli secara kredit.

08 :
D : Kas============Rp.3.600.000,-
K : Piutang Usaha================Rp. 3.600.000,-
analisa :
Piutang usaha dilunasi klien bearti ada penerimaan kas.

12 :
D : Utang Usaha======Rp. 1.150.000,-
K : Kas========================Rp. 1.150.000,-
analisa :
Utang Usaha kita dilunasi maka ada pengeluaran kas.

20 :
D : Penarikan, Tn. RakataRp. 1.000.000,-
K : Kas ========================Rp. 1.000.000,-
analisa :
D : Tn. Rakata mengambil uang di kas untuk keperluan pribadi

25 :
D : Beban Rupa-Rupa===Rp. 500.000,-
K : Kas=========================Rp. 500.000,-

30 :
D : Beban Utilitas======Rp. 195.000,- 
K : Kas =========================Rp. 500.000,-

31 :
D : 
Piutang Usaha=====Rp. 10.150.000,-
K : Pendapatan Jasa================Rp. 10.150.000,-

31 :
D : Beban Utilitas======Rp. 380.000,-
K : Kas ========================== Rp. 300.000,-

PERHITUNGAN PERSEDIAAN


Inventori Periodikal, Metode LIFO
Physical Inventory, Last In First Out
Metode LIFO menghitung Harga Pokok Penjualan dan Persediaan Akhir dari hasil melakukan stock opname pada akhir suatu periode akuntansi. Harga Pokok Penjualan dihitung dengan menggunakan harga barang yang masuk terakhir ke gudang dan di keluarkandahulu. Dengan demikian barang yang masih ada yang belum terjual adalah barang dari persediaan awalnya.
Sedangkan sistem pencatatan periodikal adalah sistem pencatatan dimana persediaan dihitung secara periodik dengan melakukan stock opname.
Dalam pelaksanaan pencatatan INVENTORI PERIODIKAL LIFO pada saat pembelian barang, jurnalnya tidak menggunakan akun Persediaan melainkan digunakan akun Pembelian. Pada saat penjualan jurnalnya debet kas atau piutang dagang dan kredit penjualan, sedangkan Harga Pokok Penjualan belum dapat diketahui karena baru ketahuan pada akhir periodic setelah melakukan stock opname.
Akun Persediaan yang terdapat dalam Neraca sepanjang tahun tetap tidak berubah dan akan berubah setelah melakukan stock opname.
Ilustrasi :
Berikut data persediaan, pembelian dan penjualan pada CV Enggano selama tahun 2007 :
01/01 Saldo barang dagangan,100 unit @ Rp. 1.000,- = Rp. 100.000,-
16/01 Dibeli barang dagangan, 550 unit @ Rp. 1.100,- =Rp. 605.000,-
12/02 Dijual barang dagangan, 300 unit @ Rp. 3.000,- = Rp. 900.000,-
14/04 Dibeli barang dagangan, 400 unit @ Rp. 1.175,- = Rp 470.000,-
20/06 Dijual barang dagangan, 600 unit @ Rp. 3.500,- = Rp.2.100.000,-
02/08 Dibeli barang dagangan, 250 unit @ Rp. 1.225,- = Rp. 306.250,-
25/10 Dijual barang dagangan 325 unit @ Rp. 3.750,- = Rp 1.218.750,-
15/12 Dibeli barang dagangan 65 unit @ Rp. 1.250,- = Rp. 81.250
Harga Pokok Penjualan dan Persediaan Akhir
Dalam menghitung Harga Pokok Penjualan maka tindakan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan stock opname maka hasilnya :
Unit Persediaan akhir = unit (Saldo + Pembelian) – unit Penjualan
Unit Persediaan akhir = ( 100 + 550 + 400 + 250 + 65 ) – 300 – 600 – 325 = 140 unit
Nilai Harga Pokok Penjualan =
( 65 unit x Rp. 1.250 + 250 unit x Rp. 1.225 + 10 x Rp. 1.175 ) + ( 390 unit x Rp. 1.175 + 210 unit x Rp. 1.100 ) + ( 300 unit x Rp. 1.100 ) = Rp. 81.250 + Rp.306..250 + Rp. 11.750 + Rp. 458.250,- + Rp.231.000,- + Rp. 330.000,- = Rp. 1.418.500,-
Persediaan Akhir = 40 unit x Rp. 1.100,- + 100 unit x Rp. 1.000,- = Rp. 44.000 + Rp. 100.000,- = Rp. 144.000,-
Laba Kotor = ( Rp. 900.000 + Rp. 2.100.000,- + Rp. 1.218.750,-) – Rp. 1.418.500,-= Rp. 2.800.250,-



Read More....

Inventori Periodikal-Metode Rata-Rata


Inventori Periodikal-Metode Rata-Rata
Physical Inventory-Average Method

Metode AVERAGE menghitung Harga Pokok Penjualan dan Persediaan Akhir dari hasil melakukan stock opname pada akhir suatu periode akuntansi. Harga Pokok Penjualan dihitung dengan menggunakanharga rata-rata dari keseluruhan barang yang dimiliki perusahaan. Dengan demikian harga pokok barang terjual dan barang yang masihbelum terjual atau persediaan akhir adalah sama besar. Sedangkan sistem pencatatan periodikal adalah sistem pencatatan dimana persediaan dihitung secara periodik dengan melakukan stock opname.
Dalam pelaksanaan pencatatan INVENTORI PERIODIKAL AVERAGE pada saat pembelian barang, jurnalnya tidak menggunakan akun Persediaan melainkan digunakan akun Pembelian. Pada saat penjualan jurnalnya sebelah debet kas atau piutang dagang dan sebelah kredit penjualan, sedangkan Harga Pokok Penjualan belum dapat diketahui karena baru ketahuan pada akhir periodic setelah melakukan stock opname.
Akun Persediaan yang terdapat dalam Neraca sepanjang tahun tetap tidak berubah dan akan berubah setelah melakukan stock opname.
Ilustrasi :
Berikut data persediaan, pembelian dan penjualan pada CV Enggano selama tahun 2007 :
01/01 Saldo barang dagangan, 100 unit @ Rp. 1.000,- = Rp. 100.000,-
16/01 Dibeli barang dagangan, 550 unit @ Rp. 1.100,- =Rp. 605.000,-
12/02 Dijual barang dagangan, 300 unit @ Rp. 3.000,- = Rp. 900.000,-
14/04 Dibeli barang dagangan, 400 unit @ Rp. 1.175,- = Rp 470.000,-
20/06 Dijual barang dagangan, 600 unit @ Rp. 3.500,- = Rp.2.100.000,-
02/08 Dibeli barang dagangan, 250 unit @ Rp. 1.225,- = Rp. 306.250,-
25/10 Dijual barang dagangan sebanyak 325 unit @ Rp. 3.750,- = Rp 1.218.750,-
15/12 Dibeli barang dagangan sebanyak 65 unit @ Rp. 1.250,- = Rp. 81.250
Harga Pokok Penjualan dan Persediaan Akhir
Dalam menghitung Harga Pokok Penjualan maka tindakan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan stock opname maka hasilnya :
Keseluruhan barang dagangan yang dimiliki adalah :
Saldo, 01/01 sebanyak 100 unit x Rp. 1.000,- = Rp. 100.000,-
Pembelian tanggal 16/01, 550 unit x Rp.1.100 = Rp. 605.000,-
Pembelian tanggal 14/04, 400 unit x Rp. 1.175= Rp. 470.000,-
Pembelian tanggal 02/08, 250 unit x Rp. 1.225= Rp. 306.250,-
Pembelian tanggal 15/12, 65 unit x Rp. 1.250, = Rp. 81.250,-
JUMLAH SEBANYAK 1.365 unit dengan NILAI = Rp 1.562.500
HARGA RATA-RATA = Rp.1.562.500/ 1.365 unit = Rp. 1.144,69 .
Jumlah unit barang yang terjual sebanyak 300 unit + 600 unit + 325 unit = 1.225 unit.
Nilai Harga Pokok Penjualan = 1.225 unit x Rp. 1.144,69 = Rp. 1.402.245,-
Persediaan Akhir = 140 unit x Rp. 1.144,69,- = Rp. 160.255,-
Laba Kotor = ( Rp. 900.000 + Rp. 2.100.000,- + Rp. 1.218.750,-) – Rp. 1.402.245,-= Rp. 2.816.505,-


Read More....

Inventori Periodikal-Metode FIFO


Inventori Periodikal-Metode FIFO
Physical Inventory-First In First Out Method

Metode FIFO merupakan salah satu metode menghitung Harga Pokok Penjualan dan Persediaan Akhir dengan menganggap bahwa barang yang masuk pertama kali ke gudang di keluarkan juga pertama kali. Sehingga barang yang masih ada yang belum terjual adalahpersediaan akhirnya.
Sedangkan sistem pencatatan periodikal adalah sistem pencatatan dimana persediaan dihitung secara periodik dengan melakukan stock opname.
Sebagai konsekuensinya, dengan melakukan INVENTORI PERIODIKAL FIFO maka:
Saat pembelian barang, jurnalnya tidak menggunakan akun Persediaan melainkan akun Pembelian.
Saat penjualan dilakukan ternyata besarnya Harga Pokok Penjualanbelum dapat diketahui karena baru ketahuan pada akhir periodic setelah melakukan stock opname.
Akun Persediaan yang terdapat dalam Neraca sepanjang tahun tetap tidak berubah dan akan berubah setelah melakukan stock opname.
Ilustrasi :
Berikut data persediaan, pembelian dan penjualan pada CV Enggano selama tahun 2007 :
01/01 Saldo barang dagangan,100 unit @ Rp. 1.000,- = Rp. 100.000,-
16/01 Dibeli barang dagangan, 550 unit @ Rp. 1.100,- =Rp. 605.000,-
12/02 Dijual barang dagangan, 300 unit @ Rp. 3.000,- = Rp. 900.000,-
14/04 Dibeli barang dagangan, 400 unit @ Rp. 1.175,- = Rp 470.000,-
20/06 Dijual barang dagangan, 600 unit @ Rp. 3.500,- = Rp.2.100.000,-
02/08 Dibeli barang dagangan, 250 unit @ Rp. 1.225,- = Rp. 306.250,-
25/10 Dijual barang dagangan, 325 unit @ Rp. 3.750,- = Rp 1.218.750,-
15/12 Dibeli barang dagangan, 65 unit @ Rp. 1.250,- = Rp. 81.250
Harga Pokok Penjualan dan Persediaan Akhir
Dalam menghitung Harga Pokok Penjualan maka tindakan yang harus dilakukan adalah dengan melakukan stock opname maka hasilnya :
Unit Persediaan akhir = unit (Saldo + Pembelian) – unit Penjualan
Unit Persediaan akhir = ( 100 + 550 + 400 + 250 + 65 ) – 300 – 600 – 325 = 140 unit
Nilai Harga Pokok Penjualan =
(100 unit x Rp. 1.000 + 200 unit x Rp. 1.100 ) + ( 350 unit x Rp. 1.100 + 250 unit x Rp. 1.175 ) + ( 150 unit x Rp. 1.175 + 175 unit x Rp. 1.225 ) = Rp. 320.000 + Rp.678.750 + Rp. 390.625 = Rp. 1.389.375,-
Persediaan Akhir = 75 unit x Rp. 1.225,- + 65 unit x Rp. 1.250,- = Rp. 91.875 + Rp. 81.250 = Rp. 173.125,-
Laba Kotor = ( Rp. 900.000 + Rp. 2.100.000,- + Rp. 1.218.750,-) – Rp. 1.389..375,-= Rp. 2.829.375.-


Read More....

REKONSILIASI BANK


Rekonsiliasi Bank


Rekonsiliasi Bank

Adanya rekonsiliasi bank adalah karena adanya perbedaan antara saldo kas versi laporan bank dan saldo kas versi perusahaan merupakan alasan utama
diperlukannya penyesuaian atau mencari kecocokan antara keduanya, yang lazim dinamakan dengan rekonsiliasi bank.
Dengan memperhatikan jumlah saldo kas dalam laporan bank dan catatan kas yang dilakukan perusahaan maka dapat ditelusuri sebab musabab perbedaan yang tertuang dalam laporan rekonsiliasi bank.

BENTUK PENYAJIAN :
Report Form :
Rekonsiliasi bank disajikan dari atas kebawah atau versi vertikal.
Account Form :
Rekonsiliasi bank disajikan dari kiri ke kanan atau versi horizontal.

PETA REKONSILIASI BANK :
Saldo kas menurut laporan bank pada akhir bulan ..................................xxx
Tambah :
Setoran dalam perjalanan......................................................................xxx
(ada setoran kas yang dilakukan perusahaan tetapi bank
belum mencatat dalam laporan bank)
Kesalahan bank terjadi bila bank membayar cek lebih
besar dari yang seharusnya.....................................................................xxx
Jumlah saldo kas ditambah dengan penambahan.......................................................................................xxxx

Kurang :
Cek yang beredar .........................................................................xxx
Cek yang kita buat yang berada ditangan penjual
Kesalahan bank terjadi bila bank membayar cek lebih
kecil dari yang seharusnya.............................................................xxx
Jumlah pengurangan ............................................................................xxx

Saldo kas yang sudah disesuaikan.......................................................xxxx


Saldo kas menurut catatan perusahaan pada akhir bulan.........................xxx
Tambah :
Setoran dari hasil penagihan piutang dagang atau wesel..........................................................................xxx
Bank sukses menagih piutang dagang atau piutang wesel
kita dan oleh bank langsung ditambahkan rekening kita,
tentu bank meminta imbalan.
Kesalahan perusahaan terjadi bila perusahaan catat cek
lebih besar sari yang seharusnya.................................................................xxx

Jumlah saldo kas ditambah dengan penambahan.....................................................................................xxxx

Kurang :
Cek kosong...................................................................xxx
Cek yang dananya tidak cukup, sudah terlanjur ditambahkan
sebagai kas, namun dikembalikan.
Biaya administrasi bank............................................................................xxx
Kesalahan perusahaan terjadi bila perusahaan catat cek
lebih kecil dari yang seharusnya.................................................................xxx

Jumlah pengurangan...................................................................................xxx
Saldo kas setelah disesuaikan............................................................xxxx

JURNAL :
Tergantung transaksi yang terjadi, antara lain :
D: Kas................................xxx
C: Piutang dagang.....................xxx
C: Penghasilan bunga.................xxx
C: Utang dagang........................xxx

D: Biaya administrasi bank...xxx
D: Piutang dagang..............xxx
D: Utang dagang.................xxx
C: Kas.......................................xxx

KATA-KATA PENTING :
Penting juga diketahui bila rekonsiliasi bank ini dalam bahasa inggris :
Kas = Cash
Piutang dagang = Account Receivable (A/R)
Piutang wesel = Note Receivable ( N/R)
Utang dagang = Account Payable ( A/P )
Utang wesel = Note Payable ( N/P)
Biaya administrasi bank = Bank Service Charge
Penghasilan Bunga = Interest Revenue
Kesalahan Bank = Bank Error
Kesalahan Perusahaan = Depositor Error
Cek yang beredar = Outstanding Check
Setoran dalam perjalanan = Deposit in Transit
Cek Kosong = Not Sufficient Fund
Sado kas yang disesuaikan = Adjusted Cash Balance

Ilustrasi 1 :
Saldo menurut catatan Cincai,Co per 31 Desember 20A sebesar Rp. 31.500.000,- . Jumlah tersebut tidak sama dengan saldo menurut laporan bank. Adapun penyebabnya adalah :
  • Adanya cek yang beredar Rp. 1.000.000,-
  • Adanya setoran dalam perjalanan Rp. 1.500.000,-
  • Biaya bank dan jasa giro belum tampak dalam catatan Cincai, Co jumlahnya masing-masing adalah biaya bank Rp. 150.000,- dan jasa giro bank Rp. 200.000,-
  • Cek kepada langganan keliru dicatat oleh Cincai, Co. Jumlah yang benar Rp.1.800.000,- Jumlah yang salah Rp. 1.200.000,-
  • Setoran Sancai, Co sebesar Rp. 800.000,- oleh bank keliru dicatat sebagai setoran Cincai, Co.
Instruksi:
  1. Hitunglah saldo menurut laporan bank per 31 Desember 20A
  2. Buatlah Rekonsiliasi Bank untuk menghitung Saldo yang benar pada tanggal 31 Desember 20A.
  3. Buat Jurnal Koreksi

PERSEDIAAN METODE FIFO & LIFO

Akuntansi Untuk Inventory (Persediaan)
Rabu, 09 September 2009 12:00 WIB
(management – finance) – Salah satu item yang nilainya terbesar dalam aset lancar perusahaan adalah Inventory (Persediaan). Sehingga, inventory menjadi salah satu bagian terpenting dari sebuah neraca. Oleh karena itu, bagi pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan, analisa terhadap inventory menjadi hal yang krusial.

Inventory atau Persediaan adalah aset berupa barang maupun bahan baku, yang ditujukan untuk dijual, sedang dalam proses produksi, atau akan digunakan untuk proses produksi.

Dalam melakukan penilaian terhadap biaya inventory, terdapat tiga metode yang umum digunakan, yakni sebagai berikut.

FIFO – First In First Out. Dalam metode ini, barang yang pertama kali dibeli (persediaan lama) adalah yang pertama kali dijual. Keuntungan menggunakan FIFO adalah pada ending inventory tercatat harga yang terbaru, sehingga lebih menggambarkan kondisi sebenarnya.

LIFO – Last In First Out. Sebaliknya dari FIFO, dalam metode ini barang yang terakhir kali dibeli justru yang pertama kali dijual. Keuntungan menggunakan LIFO adalah pada income statement dari tax saving, karena harga yang digunakan adalah harga lama, maka laba (profit margin) jadi lebih rendah, sehingga pajak pun jadi lebih rendah.

Weighted Average, yakni metode yang nilainya berada di tengah antara FIFO dan LIFO, dan perhitungannya lebih sederhana. Metode yang digunakan adalah weighted average dari seluruh unit yang tersedia untuk dijual selama periode tertentu, dan menggunakan biaya rata-rata untuk menentukan nilai dari COGS dan ending inventory.

Implikasi Metode Perhitungan Biaya
Metode perhitungan biaya ini punya implikasi yang sangat penting dalam hal analisa. Ketika kondisi harga stabil, maka perhitungan dengan ketiga metode ini akan menghasilkan angka yang sama. Namun, jika harga dalam kondisi menguat atau melemah, maka ini akan menimbulkan perbedaan angka yang signifikan, sehingga kemudian berpengaruh pada rasio finansial perusahaan.

Berikut ini adalah perbedaan pengaruh LIFO dan FIFO, dengan asumsi harga terus meningkat (inflasi).

Neraca. Pada ending inventory di neraca, FIFO lebih menunjukkan gambaran yang sebenarnya, karena harga yang tertinggal adalah harga yang baru. Sementara itu, LIFO agak kurang relevan karena harga pada ending inventory adalah harga lama, sehingga understated terhadap nilai ekonominya yang sekarang. Sehingga, untuk keperluan analisa, misalnya membandingkan dua perusahaan, maka LIFO dikonversi menjadi FIFO. Ending inventory: FIFO lebih tinggi dari LIFO

Laporan Laba Rugi. Cost of Goods Sold (COGS)pada LIFO lebih tinggi dibandingkan FIFO, karena harga pada COGS merupakan harga terbaru. Implikasinya, maka net income pada LIFO lebih rendah, sehingga mengakibatkan pajak juga lebih rendah. Sehingga, penggunaan metode LIFO ini menjanjikan adanya tax saving dalam masa inflasi. COGS LIFO lebih tinggi, net income lebih rendah, pajak lebih rendah, dibandingkan dengan FIFO. 

Laporan Arus Kas. Pajak pada LIFO lebih rendah, sehingga karena pajak yang harus dibayar (taxes payable) lebih rendah, maka arus kas operasi (CFO) pada LIFO lebih tinggi. Cash Flow LIFO lebih tinggi dari FIFO. 

Rasio Finansial. Perbedaan metode FIFO dan LIFO juga mempengaruhi rasio-rasio finansial yang penting, antara lain sebagai berikut.

Rasio profitabilitas: COGS yang lebih tinggi pada LIFO mengakibatkan rasio profitabilitas seperti Gross Profit Margin, Operating Profit Margin, hingga Net Profit Margin lebih rendah dibandingkan dengan LIFO.

Rasio likuiditas. FIFO punya rasio likuiditas lebih tinggi, karena ending inventory yang nilainya lebih tinggi. Rasio likuiditas ini diantaranya current ratio dan working capital

Rasio aktivitas operasi. Rasio yang mencerminkan aktivitas operasi akan lebih tinggi pada LIFO, karena pada LIFO yang tertinggal di ending inventory adalah harga yang lama, sehingga denominator lebih besar. Rasio ini misalnya Inventory Turnover dan Total Assets Turnover.

Valuasi Inventory
US GAAP mengakui ketiga metode dalam melakukan penghitungan biaya inventory, Sementara itu, IFRS tidak memperkenankan penggunaan LIFO. Indonesia, sebelumnya memperkenankan penggunaan ketiganya, namun sekarang berdasarkan PSAK 14 (revisi 2008) hanya FIFO dan weighed average yang diperkenankan.

Berdasarkan IFRS, metode yang digunakan adalah lower of cost or net realizable value. Net realizable value adalah selling price dikurangi dengan cost of completion/disposal. Sementara menurut GAAP, metode yang digunakan adalah lower of cost or market. Ini supaya pencatatan inventory lebih konservatif.

Dengan adanya perbedaan dalam menghitung inventory, maka analisa terkait dengan inventory, terutama ketika membandingkan dengan perusahaan lain, harus terlebih dulu melakukan penyesuaian akan perbedaan metode ini.

Rinella Putri/RP/mgf